
Bayangkan pada tahun 2050, satu dari lima orang di dunia berusia di atas 60 tahun. Itulah gambaran nyata yang sedang mendekat, dan itulah mengapa setiap 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional — pengingat global bahwa dunia perlu berbenah untuk menghadapi era penuaan penduduk.
Pada peringatan 2026, tema yang diusung adalah “The Age of Longevity: Rethinking Systems for Longer Lives” atau dalam bahasa sederhana: bagaimana kita merancang ulang sistem kesehatan, perlindungan sosial, hingga tempat tinggal agar sesuai dengan kenyataan bahwa manusia kini hidup jauh lebih lama dari sebelumnya.
Hari Lansia Internasional bukan peringatan baru. Tanggal ini ditetapkan oleh Majelis Umum PBB melalui Resolusi 45/106 pada 14 Desember 1990, dan pertama kali diperingati secara global pada 1991. Sebelumnya, PBB sudah lebih dulu meletakkan dasar lewat World Assembly on Ageing tahun 1982 yang menghasilkan rencana aksi internasional pertama soal penuaan penduduk.
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan betapa cepatnya perubahan ini terjadi. Jumlah penduduk berusia 60 tahun ke atas yang sekitar 1 miliar pada 2020 diproyeksikan melonjak menjadi 2,1 miliar pada 2050 — sekitar 20 persen dari seluruh populasi dunia. Artinya, kebutuhan akan layanan kesehatan, hunian layak, dan perlindungan sosial bagi lansia akan meningkat drastis.
Namun penuaan bukan sekadar soal angka umur. Kualitas hidup seorang lansia sangat bergantung pada dukungan keluarga, lingkungan tempat tinggal, dan akses terhadap layanan kesehatan. Karena itu, agenda global Decade of Healthy Ageing 2021–2030 mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap lansia, termasuk memerangi ageisme — yaitu diskriminasi atau prasangka negatif terhadap seseorang hanya karena usianya.
Sisi gelap yang kerap luput dari perhatian adalah kekerasan terhadap lansia. WHO memperkirakan satu dari enam orang berusia 60 tahun ke atas mengalami bentuk kekerasan tertentu setiap tahunnya, mulai dari kekerasan fisik, psikologis, finansial, hingga penelantaran. Angka ini menegaskan bahwa menghormati lansia tidak cukup berhenti di kata-kata.
Peringatan Hari Lansia Internasional setiap tahunnya menjadi pengingat kolektif bahwa umur panjang seharusnya menjadi berkah, bukan beban. Tantangannya kini ada di tangan pemerintah, komunitas, dan setiap keluarga untuk memastikan para lansia bisa menjalani hari-hari mereka dengan sehat, mandiri, dan bermartabat.
Sumber: Antara News
